penting Andriy Shevchenko sedang membuktikan kapasitasnya dalam meracik strategi dan menangani tim sepak bola. Saat ini pria dengan panggilan pendek Sheva berstatus pelatih timnas Ukraina, yang merupakan negara tanah airnya. Rekam jejak dan catatan-catatan yang membanggakan membuatnya menyandang status legenda di negara yang mendengungkan kemerdekaannya pada tahun 1991.

Awal masa kepelatihannya, Ukraina gagal melaju ke Piala Dunia 2018. Tapi kemudian di UEFA Nations League 2018/19 berhasil naik dari League B ke League A. Babak kualifikasi Piala Eropa 2020 berhasil dilalui sehingga masuk putaran final. Sekarang di UEFA Nations League 2020/21 bersaing dengan Spanyol dan Jerman untuk ke tahap selanjutnya.

Sebelum kemenangan bersejarah atas Spanyol (13/10/20) karena itu pertama kalinya dalam head to head pertemuannya, Ukraina menelan 3 kekalahan beruntun. Dibantai oleh Spanyol empat gol tanpa balas (06/09/20) serta skor akhir pertandingan  7-1 ditangan Prancis (07/10/20) dan takluk 2-1 dari Jerman (10/10/20). Optimisme mengenai kekuatan timnas dengan julukan The Yellow and Blue yang dapat berbicara banyak di percaturan antar negara Eropa tetap menyala.

Ditengah persiapannya untuk mengantar Ukraina menuju perhelatan akbar Piala Eropa, banyak rumor liar yang berkembang perihal kemungkinan Shevchenko menukangi sebuah klub. AC Milan, salah satu kesebelasan yang membesarkan namanya dilibatkan dalam pemberitaan tersebut.

Tidak beruntung di politik

Berkat kepopulerannya di sepak bola, Andriy Shevchenko tertantang untuk menggeluti dunia politik. Memang di Ukraina masyarakatnya sangat mengikuti persoalan seputar pemerintahan dan kerap menghasilkan nuansa politik yang bersuhu panas. Semasa aktif sebagai pemain, dia pernah terang-terangan memberikan dukungan kepada salah satu calon presiden di Ukraina dalam pemilu tahun 2004. Pada tahun tersebut Sheva sedang dalam karir yang cemerlang dan di akhir tahun memperoleh piala Ballon d’Or.

Begitu memutuskan gantung sepatu pada pertengahan tahun 2012, Andriy Shevchenko langsung melakukan pergerakan di dunia politik. Menjadi salah satu orang yang ikut andil berubahnya Ukrayins’ka Sotsial-Demokratychna Partiya (Ukrainian Social Democratic Party) menjadi Ukrajina – Vpered! (Ukraine – Forward!). Partai politik ini berisi beberapa tokoh terkenal Ukraina diantaranya mantan menteri untuk kebijakan sosial, Natalia Korolevska dan Bohdan Stupka yang tenar sebagai aktor.

Kiprah Shevchenko sebagai politikus tak bertahan lama. Tak seperti rekan pebola lain yang mendapat posisi penting di gemerlapnya politik seperti Kakha Kaladze atau George Weah. Pada pemilu di Ukraina tahun 2012, partai dengan nama baru tersebut belum mampu meraih banyak suara dari rakyat untuk mendapat kursi pemerintahan. Sehingga kemudian Sheva memutuskan untuk putar balik ke sepak bola dan mendalami ilmu kepelatihan.

Peningkatan ditunjukkan oleh Ukrajina – Vpered!, pada pemilu selanjutnya berhasil masuk dalam parlemen dengan meraih 29 kursi pemerintahan pada tahun 2014 dan memperoleh 43 kursi pemerintahan pada tahun 2019.

Beralih menjadi pelatih

Rekan-rekan sejawatnya di AC Milan, yang merasakan asuhan dari Carlo Ancelotti sudah mencoba peruntungannya sebagai pelatih. Filippo Inzaghi, Clarence Seedorf, Gennaro Gattuso pernah dipercaya sebagai allenatore kesebelasan yang bermarkas di San Siro tersebut. Ada juga nama-nama lain yang tengah meniti karir kepelatihannya seperti Jaap Stam, Christian Brocchi, Alessandro Nesta. Teranyar, Andrea Pirlo yang kini diberi mandat besar memoles strategi permainan rival AC Milan, Juventus.

Banyak dari nama-nama tersebut mengakui bahwa Carlo Ancelotti adalah contoh atau bimbingannya dalam upaya menjalani profesi sebagai pelatih.Terkhusus bagi Andriy Shevchenko hal tersebut wajar mengingat karir pesepakbolanya bisa melejit berkat Ancelotti.

Setelah gelaran Piala Eropa 2016 usai, tepatnya pada bulan Juli, takdir menggariskan Andriy Shevchenko dengan tugas yang tak ringan. Dia diangkat untuk menjadi pelatih timnas Ukraina. Kala itu umurnya 39 tahun. Peningkatan karir yang cukup cepat, mengingat Sheva baru masuk dalam staf kepelatihan timnas Ukraina pada bulan Februari.

“The harder it is to succeed, the more it motivates me. I wanted to succeed with the national team and I believed in the players.” Andriy Shevcheko on press conference UAF – July, 15 2016

Kemudian dalam pembentukan tim kepelatihan yang baru, Sheva memasukkan orang-orang yang pernah bekerja sama dengannya. Salah satu rekan kerja Carlo Ancelotti, Mauro Tassotti yang dikenalnya di AC Milan kini menjadi asisten pelatih di timnas Ukraina. Begitu juga teman satu perjuangan Shevchenko di lapangan saat membela Ukraina, Oleksandr Shovkovskiy yang sekarang menemaninya dari pinggir lapangan.

Bayangan prospek cerah untuk Ukraina

Mauro Tassotti yang pernah menemani Ancelotti dan sekarang bekerja sama dengan Shevchenko, menjelaskan pandangannya mengenai keduanya dalam sebuah pembicaraan eksklusif dengan Sportarena. Tentang bagaimana dia mampu berbagi peran dengan Sheva. Kemudian cara Sheva menjadikan para pemain Ukraina sebagai kesatuan yang solid baik di dalam dan luar lapangan.

Dalam merancang formasi awal pertandingan, Shevchenko sering menggunakan pola 4-3-3. Sedangkan pola alternatifnya yaitu 4-2-3-1 dan 4-1-4-1. Dengan menempatkan Andriy Yarmolenko untuk poros permainan. Karena pernah bahu-membahu berjuang di timnas Ukraina, Sheva dapat memahami bagaimana memaksimalkan Yarmolenko. Padahal di level klub, Yarmolenko sering dalam penampilan yang biasa saja.

Berkaca pada keberhasilan The Yellow Blue menembus fase 8 besar Piala Dunia 2006, Oleg Blokhin (juga berstatus legenda Ukraina) amat mengoptimalkan peran Shevchenko. Didorong oleh kemampuan ditambah pengalaman yang dimiliki berada diatas pemain lain, Sheva bisa turut meningkatkan performa rekan setimnya.

Regenerasi yang berjalan di timnas berjuluk The Yellow and Blue menuju ke arah yang positif. Imbas keberhasilan menjadi kampiun di World Cup U-20 pada tahun 2019. Kiper Andriy Pyatov (36 tahun) sudah ada penerusnya dalam diri Andriy Lunin (21 tahun). Yevhen Konoplyanka (31 tahun) dapat menjadi mentor bagi Oleksandr Zinchenko (23 tahun) dan Mykola Shaparenko (22 tahun). Kemudian ada juga darah muda di lini belakang yang tampil baik saat Ukraina bisa mengalahkan Spanyol, yakni Illya Zabarnyi (18 tahun).

Dengan kehadiran Shevchenko yang namanya harum di kalangan pesepakbola, ditambah ilmu-ilmu yang diserap dari sepanjang perjalanan karirnya menjadikannya sosok yang dianggap tepat menjaga martabat sepak bola Ukraina. Patut ditunggu bagaimana momen Sheva bersama negaranya untuk melanjutkan daya saingnya di gelaran Piala Eropa yang dihelat tahun 2021 nanti.