Situasi sulit tengah dialami Antonio Conte dengan formasi andalannya, 3-5-2. Tekanan untuk bisa membuat Inter Milan tampil lebih hebat dari musim lalu belum dapat dipenuhi. Hingga giornata 7 di Serie A musim ini, kesebelasan berjuluk Il Nerazzurri tidak dalam start yang baik menunjukkan diri sebagai kandidat kuat juara. Mengesampingkan catatan saat melatih Arezzo, Bari, Atalanta dan Siena, bisa dilihat perolehan poin Conte saat tujuh pertandingan awalnya sebagai berikut.

 

Musim

Klub Catatan 7 pertandingan awal Jumlah poin yang diraih Peringkat akhir musim di Liga
2011/12 Juventus 3 menang 4 seri 13 poin Peringkat 1
2012/13* Juventus 4 menang 2 seri 1 kalah 14 poin Peringkat 1
2013/14 Juventus 6 menang 1 seri 19 poin Peringkat 1
2016/17 Chelsea 4 menang 1 seri 2 kalah 13 poin Peringkat 1
2017/18 Chelsea 4 menang 1 seri 2 kalah 13 poin Peringkat 5
2019/20 Inter Milan 6 menang 1 kalah 18 poin Peringkat 2
2020/21 Inter Milan 3 menang 3 seri 1 kalah 12 poin ?

*Conte mulai mendampingi tim sejak giornata 16 setelah menjalani masa hukuman dari Calcioscommesse

 

Sudah banyak kegerahan dari berbagai kalangan pendukung Inter Milan. Selain kerepotan di ajang Serie A, di Liga Champions Il Nerazzurri dalam kondisi terjepit. Salah satu kritik yang paling deras mengalir yakni soal pilihan Conte dengan pola 3-5-2 dan strategi yang minim gebrakan.

 

Sejak musim 2012/13, Conte sudah rutin menggunakan pola 3-5-2 sebagai pakem formasi sejak awal pertandingan. Sebelumnya Conte kerap menggunakan formasi empat bek dengan variasi seperti 4-4-2 tradisional atau 4-4-2 diamond. Musim perdananya di Juventus dengan ekstrem Conte pernah memakai 4-2-4, kemudian beralih ke 4-3-3 dan menjadikan 3-5-2 sebagai alternatif.

 

Eksperimen di Timnas Italia dan Chelsea
Ketika menangani timnas Italia untuk tampil di Euro 2016, Antonio Conte selalu memakai formasi 3-5-2. Setelah pada masa kualifikasi serta serangkaian partai persahabatan mencoba berbagai formasi lain seperti 3-4-3, 4-3-3, 4-4-2. Dalam balutan 3-5-2 tersebut, yang menarik adalah tiga gelandang yang dimainkan. Daniele De Rossi sebagai Defensive Midfielder (DM), Marco Parolo berperan Central Midfielder (CM) dan tidak adanya pemain fantasista coba diakali dengan menurunkan Emanuele Giaccherini.

 

Dengan penerapan formasi tersebut, Belgia, Swedia, Spanyol dapat ditaklukkan Italia di Euro 2016. Pertahanan yang digalang trio bek Juventus, Bonucci – Chiellini – Barzagli tak bisa ditembus lawan. Kekalahan yang dialami dari Irlandia terjadi ketika Conte menerapkan rotasi pada beberapa posisi mengingat laga tersebut terjadi pada partai terakhir fase grup dan kepastian lolos ke babak 16 besar sudah didapat. Kandasnya Gli Azzurri dari tangan Jerman juga harus terjadi pada pertarungan sengit sampai adu penalti harus menjadi penentu kemenangan pada partai perempat-final tersebut.

 

Pada start Conte menjadi juru strategi Chelsea, ia mencoba menyesuaikan formasi dengan materi pemain yang dimilikinya. Formasi 4-1-4-1 dan 4-2-3-1 yang bergantian dipakainya. Namun dua kekalahan dari Liverpool (gameweek 6 2016/17) dan Arsenal (gameweek 7 2016/17) membuat Conte kembali ke pakem formasi favoritnya, memakai tiga bek. Namun bukan 3-5-2 yang digunakan, melainkan formasi 3-4-2-1 dan kadang 3-4-3 sebagai opsi lainnya.

 

Atas perubahan formasi tersebut, berubah pula posisi alami beberapa pemain. Cesar Azpilicueta yang posisi alami adalah bek sayap kanan, diletakkan sebagai bek tengah. Victor Moses yang sebelumnya lebih lekat sebagai gelandang, diberi peran menjadi wing-back kanan. Eden Hazard, Willian Borges, Pedro Rodriguez yang sejatinya winger diperankan lebih luwes tak terpaku di sayap dengan mengisi duet posisi nomor 10 untuk mendukung Diego Costa sebagai ujung tombak.

 

Akan tetapi di musim keduanya sekaligus menjadi musim terakhirnya di Chelsea, strategi Conte dengan 3-4-2-1 sudah dapat diantisipasi banyak pesaing di Premier League 2017/18. Manchester City, Manchester United, Tottenham Hotspur berhasil menggungguli The Blues. Klub yang levelnya dibawah Chelsea juga bisa meraih kemenangan, diantaranya yakni Crystal Palace (gameweek 8), Bournemouth (gameweek 25), Watford (gameweek 26).

 

Sudah saatnya berbenah
Pengalaman buruk saat menangani tim London Biru tersebut tentu tak ingin diulangi. Pola 3-5-2 yang selama ini sering digunakan Conte di Inter sudah terbaca para lawannya. Memang secara materi skuad yang dimiliki, bisa mendukung pemakaian formasi tersebut.

 

Komposisi tiga bek Inter yang paling tepat yaitu Milan Skriniar – Stefan De Vrij – Alessandro Bastoni. Diluar dari tiga nama tersebut bisa kita lihat sendiri inkonsistensi penampilannya. Duet penyerang pun sudah dapat diisi dengan pemain yang mumpuni yaitu Romelu Lukaku dan Lautaro Martinez. Serta Alexis Sanchez dan Ivan Perisic yang bertipe winger dimanfaatkan Conte sebagai opsi alternatif apabila duet penyerang andalan tersebut tak tampil maksimal. Achraf Hakimi di pos wing-back kanan sudah sangat baik tinggal beradaptasi dengan kerasnya sepak bola Italia.

 

Hanya saja pe-er terdapat di para gelandang yang mengisi lini tengah. Conte belum menemukan racikan yang tepat. Ketika menggunakan pola 3-4-1-2, Christian Eriksen belum menampilkan performa yang menawan. Nicolo Barella yang sudah cocok sebagai duet gelandang tengah, ketika dicoba main di belakang kedua penyerang juga masih belum dapat momen tepat memperlihatkan kebolehannya.

 

Pertandingan Gelandang yang main (rating dari La Gazzetta dello Sport)
vs Fiorentina

Starter: Barella (6,5) Brozovic (5) Eriksen (4,5)

Pengganti: Sensi (6,5) Vidal (6,5) Nainggolan (6)

vs Benevento

Starter: Gagliardini (7,5) Vidal (7) Sensi (7)

Pengganti: Barella (6,5) Brozovic (5,5) Eriksen (6)

vs Lazio

Starter: Barella (6,5) Gagliardini (6) Vidal (6,5)

Pengganti: Sensi (4) Brozovic (6)

vs Milan

Starter: Vidal (5,5) Brozovic (5) Barella (6,5)

Pengganti: Eriksen (5)

vs Genoa

Starter: Vidal (5,5) Brozovic (6) Eriksen (6)

Pengganti: Barella (7) Nainggolan (-)

vs Parma

Starter: Barella (6,5) Gagliardini (6) Eriksen (5)

Pengganti: Brozovic (6,5) Vidal (6,5) Nainggolan(5,5)

vs Atalanta

Starter: Vidal (7) Brozovic (6) Barella (6,5)

Pengganti: Gagliardini (5,5)

 

Jadi bisa dikatakan Inter masih memiliki kekurangan dalam menjalankan taktik permainan yang hebat dengan formasi tersebut. Dengan jeda internasional yang akan berlangsung, ini waktu kesempatan yang baiknya dimanfaatkan untuk Conte dan tim kepelatihannya berbenah dan merancang strategi baru. Ketimbang masih berusaha membuat 3-4-1-2 lebih garang. Karena melihat tim sekarang kurang tepat karena belum ada yang ahli sebagai trequartista, sang pemain di belakang duet penyerang.

 

Tiga penyerang
Inter mempunyai dua pemain dengan posisi alamiah winger yang mendukung skema tridente. Alexis Sancez terbukti berfungsi baik sebagai winger (dengan turunan peran sebagai inside forward) di Udinese dan Barcelona serta timnas Chile. Ivan Perisic juga jauh lebih baik sebagai winger (meski tipikal permainan sayapnya sering tradisional) karena dicoba sebagai wing-back sejauh ini belum ada performa positif keseluruhan.

 

Duet maut penyerang Lukaku-Lautaro harus ada yang berkorban duduk di bangku cadangan. Atau jika ingin bereksperimen, Lautaro ditempatkan sebagai winger yang tentunya dapat dikembangkan seperti apa nanti turunan perannya apakah tetap menjadi pressing forward atau mencoba lakon inside forward.

 

Sedikit gambaran mengenai kelebihan dan kekurangan jika Inter memakai formasi dengan memainkan tiga penyerang dijelaskan seperti berikut.
Formasi 4-3-3
Poin negatif: Inter memiliki tiga bek tengah yang sudah padu. Sebenarnya kebijakan rotasi bisa diambil. Tapi dapat berimbas pada kondisi psikis pemain yang membuat situasi internal tim kurang kondusif
Poin positif: Eriksen dapat menampilkan permainan terbaiknya mengingat kemampuannya dalam mengalirkan bola kepada rekan setim. Sementara untuk penjelajah lapangan sudah ada Barella dan Vidal.
Formasi 3-4-3
Poin negatif: Perlu kejelian yang tinggi dalam memilih gelandang yang tepat untuk mengisi formasi tersebut. Agar tercapai transisi lini tengah yang baik dalam menyerang dan bertahan.
Poin positif: opsi penyelesaian akhir dapat bertambah apabila penyerang tengah mendapat marking ketat. Perhatian bek lawan juga bakal terpecah apabila terlalu menempel winger Inter sehingga penyerang tengah bisa mendapat celah.