Setiap ada yang bertanya kepada saya, mengenai allenatore yang terbaik dalam menangani Inter Milan, jawabannya yakni Jose Mourinho. Kemudian sekarang ini Il Nerazzurri dilatih oleh Antonio Conte, dengan situasi yang penuh tekanan. Sudah diberi gaji tinggi, tapi Inter Milan masih jauh dalam konsisten menampilkan performa yang baik secara keseluruhan sebagai tim di atas lapangan hijau.

Menjelang partai matchday 4 Liga Champions 2020/21, duel antara Inter Milan versus Real Madrid, tingkat keyakinan saya sebagai Interista bahwa klub yang didukung akan menang sangat tinggi. Didasari dari sejumlah fakta yang saya tahu. Seperti catatan pertandingan Real Madrid yang bertandang ke Italia yang tidak terlalu bagus, 34 partai yang dilewati hanya bisa dimenangkan 8 kali. Ditambah memori musim 1998/99, pada fase grup Liga Champions, Inter bisa menang atas Real Madrid pada laga yang berlangsung di Stadion Giuseppe Meazza (kebetulan berlangsung pada tanggal yang sama, 25 November). Belum lagi kondisi dari kubu Real Madrid yang tak bisa membawa Sergio Ramos dan Karim Benzema untuk menghadapi laga yang penting ini.

Yang kemudian terjadi dalam pertandingan antara Inter melawan Madrid adalah kemenangan diraih kubu tim tamu. Para pemain yang mengenakan baju biru-hitam di atas lapangan tampak tak berdaya. Sangat membuat segenap tifosi kecewa dan banyak merutuk keadaan ini.

Sebelumnya kita telah membahas Conte dengan formasi 3-5-2 yang menjadi sorotan akibat dari sering melempemnya taji Inter Milan. Jika terus-menerus hasil buruk yang dituai seperti ini, saya semakin yakin, Antonio Conte tidak dapat menghasilkan prestasi berupa gelar juara apalagi menyamai pencapaian Jose Mourinho di Il Nerazzurri.

Kecermatan Mourinho di Inter
Hubungan antara Antonio Conte dan Jose Mourinho menyita perhatian kala keduanya mengarungi kerasnya Premier League. Dimulai dari musim 2016/17, Conte menangani Chelsea dan Mourinho berada di Manchester United. Perseteruan kata-kata melalui media-media pers olahraga (yang biasa terjadi di Inggris) adalah wujud persaingan kedua pelatih tersebut.

Baik Conte dan juga Mourinho memiliki cerita tersendiri ketika mengurusi strategi permainan Chelsea. Sekarang Conte berada di Inter, klub dimana suporternya (termasuk saya) mengagumi sang mantan pelatih bernama Jose Mourinho. Sebelum sekarang-sekarang ini ramai ujaran #ConteOut di dunia maya, banyak juga yang yakin dengan Conte akan berhasil di Inter mengingat karakternya yang tidak beda jauh dengan Mourinho.

Jose Mourinho mendapat tugas sebagai pelatih Inter Milan dengan target yang tinggi. Pimpinan klub, Massimo Morratti mendambakan kejayaan di kompetisi antar klub benua Eropa. Sampai rela memutus kerja sama dengan Roberto Mancini yang menjadi allenatore pemberi tiga Scudetto. Rekam jejak Mourinho yang sukses di Porto dan Chelsea menjadi dasar keyakinan sang patron mengambil kebijakan tersebut.

Musim pertama Mourinho di Inter, yakni 2008/09 ia memakai formasi andalannya kala di Chelsea yakni 4-3-3. Untuk mendukung strategi yang sudah digunakannya tersebut dua pemain tipe winger direkrut, Amantino Mancini dan Ricardo Quaresma. Dan tak jarang Adriano dipasang sebagai penyerang sayap karena sudah pasti ujung tombak utama yang diandalkan adalah Zlatan Ibrahimovic.

Seiring berjalannya pertandingan demi pertandingan, Inter masih kurang baik dengan formasi dan strategi tersebut. Kemudian Mourinho mengubah pakem permainan dengan formasi 4-3-1-2. Memang Inter masih digdaya di Serie A namun di Liga Champions tersungkur di babak 16 besar.

Berkaca dari musim pertamanya, Mourinho dengan cermat meminta kepada sederet direksi klub, dalam hal ini ada Gabriele Oriali yang mengurusi perihal transfer pemain untuk merekrut pemain yang mendukung strategi terbarunya yaitu dengan formasi susunan pemain 4-3-1-2. Meninggalkan formasi andalan 4-3-3 dan tak membeli pemain-pemain dengan posisi alamiah pemain sayap yang menyerang. Tak ambil pusing ketika Ibrahimovic yang sudah menjadi ikon tim hengkang ke Barcelona.

Serangkaian momen pada musim bersejarah Inter, ada fase yang tidak menyenangkan akibat kekalahan dari Barcelona dan Juventus pada bulan Desember 2009. Disini kecermatan Jose Mourinho terlihat. Dia Kembali mengubah formasi susunan pemain dan meracik strategi baru. Menggunakan pola 4-2-3-1 atau sering juga media-media pers olahraga tampilkan sebagai 4-3-3.

Pada umumnya formasi 4-3-3 atau 4-2-3-1 disebut untuk tipe permainan yang menyerang. Namun dengan isi kepala Mourinho, formasi tersebut bisa mendukung strategi Mourinho yang ingin lawan bingung dengan cara Inter bertahan. Samuel Eto’o dan Goran Pandev (datang pada bursa transfer pertengahan musim) yang bertipikal ujung tombak tak keberatan mengurangi naluri menyerangnya untuk membantu bertahan dari sektor lini depan.

Perubahan yang dilakukan dalam perjalanan berbuah hasil yang indah dan menjadi kenangan manis bagi segenap insan yang mencintai Inter. Musim 2009/10 adalah musim yang dibanggakan dan itu tercipta salah satu faktornya berkat keberhasilan Jose Mourinho dengan jeli melihat potensi tim dan terus memikirkan apa yang terbaik untuk ditampilkan di atas lapangan.

Kebuntuan Lippi di Inter
Dapat kita katakan bahwa kedekatan Antonio Conte dengan Marcello Lippi seperti murid dan guru. Semasa di Juventus, Conte yang aktif sebagai pemain merasakan arahan dan bimbingan dari Lippi yang menjadi allenatore. Beberapa kesempatan di media-media pers  olahraga, Lippi tak ragu melontarkan pujian terhadap Conte yang sedang meniti karir sebagai pelatih.

Histori karir kepelatihan Lippi dengan Conte banyak kemiripan. Sama-sama pernah sebagai allenatore Juventus dan timnas Italia. Yang menjadi pembeda dari hal tersebut yakni prestasi yang diraih. Kemudian Lippi pernah merasakan panasnya kursi pelatih di Inter, tempat yang sekarang diduduki Conte.

Lippi tiba sebagai allenatore Inter pada awal musim 1999/00. Musim sebelumnya Il Nerazzurri terpuruk dengan finis di posisi 8 Serie A dan mengalami pergantian pelatih sebanyak empat kali. Perbaikan yang dibawa oleh pria yang gemar menghisap cerutu tersebut membuahkan hasil yang cukup memuaskan. Mengakhiri Serie A di peringkat empat dan bisa mencapai final Coppa Italia.

Di musim tersebut, Inter memiliki barisan penyerang yang hebat. Ronaldo, Ivan Zamorano dan Roberto Baggio dan Alvaro Recoba masih dipertahankan. Ditambah dengan kehadiran rekrutan termahal dari Lazio yakni Christian Vieri. Formasi yang sering dipakai Lippi kala itu 3-5-2. Tiga orang di lini belakang kerap diisi oleh Laurent Blanc, Christian Panucci dan yang main bergantian ada Dario Simic, Ivan Cordoba, Salvatore Fresi. Posisi inti wing-back ditempati oleh Javier Zanetti dan Grigoris Georgatos.

Musim 2000/01 ditatap dengan keyakinan yang besar. Meski ditinggal sejumlah pemain andalan antara lain Angelo Peruzzi, Ivan Zamorano, Roberto Baggio dan Christian Panucci. Dan anehnya untuk mengisi kekosongan tersebut, tidak ada perekrutan pemain yang tepat. Untuk mengisi slot lini depan, Robbie Keane diboyong dengan dana senilai €19,5 juta yang cukup besar saat itu dan Hakan Sukur.

Dengan situasi banyak pemain yang cedera, Lippi dalam fase sulitnya menjadi pelatih Inter. Pemain baru yang hadir tak bisa banyak menolong. Dalam memilih kiper inti, Sebastian Frey yang disiapkan sempat digeser hingga Marco Ballotta bermain. Robbie Keane dan Hakan Sukur tak bisa menambal kekuatan lini depan yang berkurang karena absennya Ronaldo dan Vieri.

Lini belakang juga sedang kekurangan kekuatannya. Pemain inti seperti Laurent Blanc dan Javier Zanetti sedang tak bisa bermain karena kondisi sedang cedera. Tak ada alternatif strategi yang dimunculkan. Justru malah pemain-pemain yang tersisa dan banyak berstatus pemain baru tersebut tetap dalam pengarahan Lippi dengan sistem taktik yang selama ini dianut, tiga bek.

Kekalahan di kualifikasi Liga Champions dan Supercoppa Italia menjadi indikasi betapa kacaunya permainan Inter tanpa pilar-pilar intinya saat itu. Hasil pertandingan yang positif diraih pada ajang kualifikasi Piala UEFA (sekarang Europa League) dan Coppa Italia. Kemudian pada giornata 1 musim 2000/01, melawan Reggina, laga terakhir Lippi sebagai allenatore Inter. Dia masih tetap memakai formasi tiga bek, namun dalam susunan 3-4-3. Pertandingan berlangsung dengan mengecewakan bagi segenap insan pendukung Il Nerazzurri dan skor akhirnya adalah kemenangan Reggina.

Seakan tak kuat menghadapi tekanan atas situasi yang terus memburuk, pada konferensi pers usai laga tersebut, Lippi memberikan pernyataan yang negatif atas penampilan para pemain dengan mencak-mencak. Lalu mengandaikan diri menjadi bos Inter, akan melakukan pemecatan terhadap pemain dan pelatihnya. Tak beberapa lama dari kejadian tersebut, Lippi diberhentikan dari jabatan pelatih Il Nerazzurri.

Bagaimana ujung cerita Conte di Inter?
Kini pada musim kedua Conte sebagai pelatih Il Nerazzurri, mendapati takdir berupa tekanan yang amat berat seiring inkonsistensi performa klub. Dan seperti biasa, dalam hidup ada pilihan. Entah apa yang akan dipilihnya, yang jelas kita sebagai tifosi hanya bisa mengetahui akhir nasib Conte di Inter seperti apa nantinya.

Sudah seharusnya Conte mungkin dapat memahami dengan kisah-kisah para allenatore Inter terdahulu. Sang guru, Marcello Lippi yang tercelat dengan tidak terhormat karena tak kunjung menyikapi periode negatif dengan bijaksana. Atau Jose Mourinho yang akhirnya dicintai Interisti berkat kehebatannya dan tidak terpaku dengan segala hal yang telah digunakan dalam karir melatihnya selama ini.