Hungaria pada era tahun 50-an memiliki tim sepak bola yang begitu disegani. Gyula Grosics menjadi salah satu dari bagian skuat yang dijuluki Magical Magyars. Bertugas sebagai penjaga gawang, namun juga aktif mendukung penyerangan tim.

Banyak kalangan pengamat sepak bola menyebut Gyula Grosics sebagai pelopor sweeper keeper. Itu tak lepas dari Magical Magyars dengan pelatih Gusztav Sebes mengusung permainan menyerang dengan dahsyat. Tak heran dengan atribut yang dimiliki, posisi nomor satu Hungaria tak bisa dilepas dari penjaga gawang yang dijuluki The Black Phanter.

Kehebatan Hungaria dibawah asuhan Gusztav Sebes berhasil memperoleh gelar medali emas di Olimpiade 1952. Sayang pada ajang Piala Dunia 1954, Magical Magyars yang diyakini banyak orang akan keluar sebagai juara, justru keok di partai final dari Jerman Barat.

Selepas kegagalan Piala Dunia 1954, Gyula Grosics mendapat perlakuan yang tidak hormat. Dianggap sebagai biang keladi atas kegagalan timnas Hungaria di partai final. Oleh para penguasa pemerintahan di Hungaria, dia disebut adalah mata-mata negara bagian barat Eropa. Memang pada masa tersebut, politik dan sepak bola selalu dikait-kaitkan.

Untuk level klub, Gyula Grosics tak mengikuti jejak rekan-rekan Magical Magyars lain seperti Sandor Kocsis, Nandor Hidegkuti dan Ferenc Puskas yang mengadu nasib di luar negeri. Dia memperkuat lima klub dengan mengumpulkan lebih 350 laga dari mulai tahun 1945 sampai dengan 1962 di kompetisi teratas Hungaria.

Usai gantung sarung tangan, Gyula Grosics mencoba peruntungan menjadi pelatih. Mulai dari klub tempat ia pensiun sebagai pemain, FC Tatabanya (Dulu bernama Tatabanya Banyasz) pada tahun 1963. Kemudian berlanjut di Salgotarjani BTC dalam kurun waktu tahun 1964 dan 1965. Hingga menyasar ke benua Asia dengan menerima tawaran menjadi pelatih timnas Kuwait pada tahun 1996.

Momen unik untuk Gyula Grosics pada tahun 2008, adalah dimana ia berkesempatan bermain untuk Ferencvarosi TC. Pada satu pertandingan seremoni menghadapi Sheffield United. Saat itu The Black Panther berumur 82 tahun. Masuk ke lapangan dengan seragam khas berwarna hitam, melakukan sepakan kick-off dan kemudian berjalan ke pinggir lapangan untuk diganti.

Sedangkan bentuk penghormatan klub FC Tatabanya untuk sang legenda kiper timnas Hungaria tersebut menjadikan nama stadionnya yakni Gyula Grosics pada tahun 2011. Di tahun 2014, dengan usia 88 tahun, The Black Panther menghembukan nafas terakhir.