Sujud syukur dilakukan segenap personel timnas Aljazair di atas lapangan Cairo International Stadium sebagai perwujudan atas sukacita yang tengah dirasakan. Perjuangan datang ke Mesir untuk bertarung di Piala Afrika 2019 berbuah gelar juara. Pencapaian yang pertama dan terakhir dirasakan pada tahun 1990 silam.

Keberhasilan menjadi jawara Piala Afrika 2019 memiliki makna yang amat dalam bagi kubu timnas yang punya julukan El Khadra. Maklum, usai kesuksesan di tahun 1990 tersebut, sepak bola Aljazair mengalami penurunan. Padahal di masa tahun 80an, mampu menembus Piala Dunia dan bisa tampil mengejutkan dengan mengatasi timnas Jerman.

Sayangnya konflik kepentingan kenegaraan yang melanda, ikut membuat sepak bola Aljazair amburadul. Keikutsertaan di Piala Afrika bisa raib karena kesalahan administrasi pendaftaran pemain.

Memang seperti halnya negara-negara belahan utara benua Afrika lain, Aljazair tak luput dari perguncangan dunia politik. Memasuki tahun 2019, polemik terkait pemilihan umum (pemilu) presiden menjadi isu panas yang sampai sekarang belum tuntas. Seruan untuk perubahan menyeluruh pada sistem pemerintahan yang dianut kian marak disuarakan rakyat.

Ikatan dengan Prancis
Meski berbeda benua, Prancis dan Aljazair memiliki sejarah kenegaraan yang mengikat sejak dahulu kala. Invasi kolonialisme Eropa di tanah Afrika hingga pertarungan perjuangan kemerdekaan menjadi goresan kisah lama kedua negara tersebut. Ditengah kisruh politik Aljazair saat ini, Prancis tak ketinggalan turut mengamati situasi-situasinya.

Namun bicara soal sepak bola, Prancis dan Aljazair tak ada rivalitas yang berlebihan. Keberhasilan Aljazair menjuarai Piala Afrika 2019 disambut riang gembira oleh tokoh tersohor sepak bola Prancis, mulai dari Zinedine Zidane sampai Samir Nasri. Para imigran Aljazair yang bermukim di Prancis juga dapat merayakan kesuksesan El Khadra meski tak luput dari adanya aksi anarki yang ramai diberitakan.

Kesebelasan-kesebelasan di liga Prancis juga tidak menutup pintu dalam menerima anak didik yang mempunyai asal-usul dari Aljazair. Istilah pandang bulu dari kaum pribumi atau imigran disingkirkan. Sehingga benar-benar objektif dalam mengembangkan kemampuan mengolah bola. Selain Riyad Mahrez, dalam skuat El Khadra saat ini yang menjalani masa remaja bersama klub liga Prancis diantaranya ada Sofiane Feghouli dan Ramy Bensebaini.

Pertemuan antara Prancis dan Aljazair dalam pertarungan sepak bola antar timnas seniornya masih minim. Berdasarkan data dari 11v11.com, enam kali partai mempertemukan kedua negara tersebut. Dengan rincian sebagai berikut:

Tanggal Pertandingan Skor Kompetisi
07 September 1967 Aljazair vs Prancis 1-3 Mediterranean Games
24 Agustus 1975 Aljazair vs Prancis 2-0 Mediterranean Games
06 September 1975 Aljazair vs Prancis 3-2 Mediterranean Games
21 September 1979 Aljazair vs Prancis 1-1 Mediterranean Games
15 September 1987 Aljazair vs Prancis 4-0 Mediterranean Games
06 Oktober 2001 Prancis vs Aljazair 4-1 International Friendly

Seandainya Aljazair mampu kembali juara Piala Afrika pada tahun 2021, semakin dekat takdir duel menghadapi Prancis di Piala Konfederasi 2021. Walau belum tahu bagaimana kepastian agenda di kalender FIFA pada tahun tersebut.

Skuat Aljazair saat ini
Aljazair bukan termasuk negara yang kekurangan menghasilkan pebola berkualitas. Era 80an, ada Rabah Madjer yang menjadi ikon El Khadra. Zinedine Zidane yang terkenal di jagat raya, memiliki riwayat darah orang Aljazair. Generasi sekarang pun bakat mumpuni yang dihasilkan terwakili oleh Riyad Mahrez (bermain di Manchester City) dan Yacine Brahimi (bermain di FC Porto). Belum habis masa mereka, masih ada nama-nama belia seperti Adam Ounas dan Ismael Bennacer.

Karena banyak pemainnya merumput di klub-klub Eropa, Aljazair mendapat sebutan “timnas Afrika rasa Eropa”. Dari 23 nama skuat yang dibawa Piala Afrika 2019, hanya satu orang yang bermain di kesebelasan dalam negeri.

Dalam skuat El Khadra di Piala Afrika 2019, diisi cukup banyak pemain blasteran. Mereka yang asli lahir dari tanah Aljazair adalah Islam Slimani, Baghdad Bounedjah, Ramy Bensebaini, Hicham Boudaoui, Youcef Atal, Rafik Halliche, Djamel Benlamri, Azzedine Doukha. Hanya sekitar hampir 35% pemain lokal. Sisanya rata-rata lahir di Prancis dengan identitas orang tuanya berkebangsaan Aljazair.

Ismael Bennacer yang merupakan barisan starter termuda sukses meraih penghargaan Pemain Terbaik Piala Afrika 2019. Dia sudah siap untuk berlabuh ke klub kondang Serie A, AC Milan pada musim 2019/20. Gelandang kelahiran 1 Desember 1997 tersebut mengalami perkembangan yang pesat bersama Empoli, kendati gagal menghindarkan dari hukuman degradasi.

Peran Djamel Belmadi
Kursi pelatih di Aljazair menjadi panas semenjak ditinggal Vahid Halilhodzic yang sukses mengantar Aljazair mengikuti putaran utama Piala Dunia 2014 dan melaju sampai babak 16 besar. Lima orang duduk sudah disitu (diluar caretaker) yakni Christian Gourcuff, Milovan Rajevac, Georges Leekens, Lucas Alcaraz, Rabah Madjer. Sampai pada awal Agustus 2018, Djamel Belmadi yang dipercaya menempati pos pelatih utama.

Sejak awal peresmian pengumumannya menukangi timnas Aljazair, Belmadi sudah menyerukan perubahan nasib. Bisa menjadi kampiun Piala Afrika 2019 bagaimanapun caranya.

Babak kualifikasi berhasil dilewati dengan status juara grup D dan mencatat hanya sekali kalah. Pada pertandingan uji coba di tahun ini sebagai persiapan mengarungi putaran final Piala Afrika, kemenangan selalu diraih. Terlepas dari lawan yang dihadapi berasal dari benua yang sama. Rangkaian hasil positif yang didapat menjadi penambah keyakinan demi mencapai target gelar juara. Tujuh partai Piala Afrika tanpa menelan kekalahan dan gawangnya Cuma kebobolan di dua partai.

Djamel Belmadi mungkin masih minim pengalaman dalam urusan pembedahan strategi. Tapi spiritnya mampu menular ke para pemainnya. Terlihat dari gaya instruksinya di pinggir lapangan. Jika dalam mode permainan menyerang, kedisiplinan diperhatikan seperti jangan sampai salah umpan. Begitu juga saat mengusung taktik defensif, tak boleh ada celah buat lawan dan bersatu untuk bertahan.

Memang pada laga final Piala Afrika 2019, Aljazair kalah jauh dalam penguasaan bola dari Senegal. Melancarkan satu shoot sepanjang pertandingan yang kemudian menjadi gol kemenangan. Tapi bukan berarti El Khadra adalah tim yang menganut paham taktik pragmatisme garis keras. Mengacu statistik pertandingan Aljazair selama turnamen berlangsung yang dihimpun Whoscored, tiga pertandingan bisa menghasilkan keunggulan ball possession atas lawan-lawannya.