Ambisi menutup tahun 2019 dengan pencapaian luar biasa dicanangkan Liverpool. Memuncaki klasemen Premier League. Menguasai fase grup Liga Champions. Kemudian target menjadi kampiun di ajang Club World Cup.

Liverpool tampil di Club World Cup tahun ini mewakili konfederasi UEFA. The Reds terbang ke Qatar dengan membawa 23 pemain. Berisi skuat terbaik, minus pemain yang cedera seperti Fabinho dan Joel Matip.

Hasrat tim yang sudah enam kali menjuarai Liga Champions ini untuk beranjak dari Qatar dengan membawa piala Club World Cup begitu tinggi. Sekaligus mengusik sang rival Abadi, Manchester United yang sekarang merupakan klub Inggris satu-satunya berhasil merasakan nikmat juara di turnamen antar klub dunia. Liverpool belum sama sekali menyabet titel juara klub level dunia. Baik itu ketika dulu bernama Intercontinental Cup dan kini Club World Cup.

Kenapa bisa begitu? Berikut ringkasan kiprah Liverpool dalam mengarungi kompetisi level interkontinental.

Tahun 1977
Liverpool mengikuti langkah Ajax Amsterdam (tahun 1971, 1973) dan Bayern Munchen (tahun 1974) yang tak bisa bertanding di Intercontinental Cup karena tak dapat menemukan tanggal yang pas. Sehingga yang menggantikan posisi The Reds untuk melawan Boca Juniors selaku jawara Copa Libertadores yakni Borussia Monchengladbach yang menjadi finalis Liga Champions 1976-77.

Tahu 1978
Perhelatan Intercontinental Cup pada tahun 1978 tidak dilaksanakan. Liverpool yang didaulat menghadapi Boca Juniors, kembali tak bisa mendapat jadwal pertandingan yang memungkinkan. Begitu pun dengan Club Brugge yang merupakan finalis Liga Champions 1977-78 sebagai pengganti The Reds. Usul Boca Juniors untuk menggelar pertandingan di tahun berikutnya tak ditanggapi.

Tahun 1981
Banyak yang begitu menantikan duel dari Intercontinental Cup 1981. Penyebabnya adalah bertemunya salah dua pemain berbakat yang menjadi sorotan banyak orang kala itu, Kenny Dalglish dari Liverpool dan Zico dari Flamengo. Partai yang berlangsung di stadion National Tokyo ini dimenangkan oleh Flamengo dengan skor mencolok, tiga gol tanpa balas.

Tahun 1984
Tak banyak yang menduga bahwa Liverpool harus tumbang dari Independiente di Intercontinental Cup 1984. The Reds yang saat itu diasuh Joe Fagan merupakan tim tangguh yang menjuarai liga Inggris dan piala liga Inggris 1983/84 dan Liga Champions. Namun Kenny Dalglish dkk kalah dengan skor tipis, 0-1. Sehingga trofi pun diambil Jorge Burruchaga beserta tim yang menjadi duta CONMEBOL ke Argentina.

Tahun 2005
Dengan nama dan format baru, peruntungan Liverpool belum berubah. Tanah Jepang masih belum berkenan untuk kejayaan The Reds. Kali di International Stadium Yokohama sebagai arena partai final, Steven Gerrard dkk takluk oleh Sao Paulo. Mineiro menjadi satu-satunya pemain yang berhasil mencetak gol pada laga yang berlangsung sengit. Daya juang layaknya Miracle of Istanbul yang terjadi pertengahan tahun 2005, tak cukup menjebol pertahanan kuat klub asal Brazil yang digalang kiper sekaligus kapten tim, Rogerio Ceni.