Musibah terus-menerus menerpa Livorno. Akhir musim 2020/21, kesebelasan dengan julukan Gli Amaranto divonis turun kasta dari Serie C menuju Serie D. Nama klub Associazione Sportiva Livorno Calcio telah banyak dikenal para penggiat sepak bola sejak masuk ke Serie A pada tahun 2004. Sebelum itu, terakhir kali klub yang lahir tahun 1915 ini mentas di piramida teratas liga Italia tersebut pada tahun 1949.

Dengan status tim promosi di Serie A musim 2004/05, Livorno berhasil finis di posisi sembilan pada klasemen akhir. Kemudian penyerang flamboyan mereka, Cristiano Lucarelli berhasil menjadi top skor dengan raihan 24 gol. Kala itu yang bertindak sebagai pelatih yakni Roberto Donadoni, yang kedepannya akan dipercaya menjadi pelatih timnas Italia.

Musim berikutnya Livorno sukses mengakhiri Serie A dengan masuk enam besar, sehingga dapat tiket ke kompetisi antar klub Eropa. Pencapaian Gli Amaranto di ajang Piala UEFA 2006/07 (sekarang Europa League) berhasil sampai ke babak 32 besar.

Setelah itu, kejatuhan Livorno terjadi dengan berada di posisi paling bawah pada classifica Serie A 2007/08. Dan kemudian yang menimpa Gli Amaranto adalah nasibnya yang akrab di Serie B dan Serie C. Dua kali promosi ke Serie A (pada tahun 2009 dan 2014), hanya mampu bertahan setahun akibat vonis degradasi.

Berjuang dari krisis ekonomi

Efek pandemi dari penyebaran COVID-19 memang berakibat buruk bagi siapa saja, tanpa terkecuali untuk sebuah klub sepak bola. Sekitar pertengahan tahun 2020, Livorno melepas 10 pemain yang kontraknya usai di tanggal 30 Juni. Begitu juga dengan pemain yang berstatus pinjaman dari kesebelasan lain, telah dikembalikan. Padahal kompetisi Serie B 2019/20 masih menyisakan tujuh giornata.

Kemudian jelang bergulirnya Serie C 2020/21, Livorno kerepotan dalam menyerahkan dana jaminan partisipasi. Sebelum mengikuti kompetisi liga baik itu di Serie A dan ke bawah seterusnya, hal berkaitan dengan finansial tersebut wajib ada. Sayangnya kondisi ekonomi yang memburuk berimbas pada hukuman pengurangan 5 poin bagi Gli Amaranto dalam mengarungi kompetisi.

Usaha dari Rosettano Navarra (presiden klub) dan Aldo Spinelli (pemilik klub) yang menyanggupi pembayaran upah atas jasa pemain selama musim 2020/21 berlangsung yang membuat Gli Amaranto diberi kesempatan tanding di Serie C. Akan tetapi, pengumuman bahwa Livorno dalam situasi krisis ekonomi dan berujung pada status bangkrut yang terjadi di pertengahan jalan musim kian membuat masa-masa tanpa cahaya menyelimuti Stadion Armando Picchi.

Dengan keterbatasan yang dihadapi, Livorno menyelesaikan 38 partai di Serie C pada grup A dengan 7 kemenangan, 13 hasil imbang dan 18 kekalahan. Ditengah kompetisi yang dilalui, pemain dari tim primavera banyak digunakan jasanya untuk turut bertanding. Lalu memanggil salah satu pemain legendaris klub yang menjadi skuat Italia saat juara World Cup 2006, Marco Amelia untuk ditunjuk menjadi pelatih.

Selain urusan gaji pemain, Livorno memiliki hutang kepada pemerintah yang berwenang atas pemakaian Stadion Armado Picchi. Disandur dari amaranta.it, per Juli 2021, Livorno telah menyetorkan uang 260 ribu euro sebagai itikad penyelesaian masalah biaya pakai Stadion.

Akhir dari era Aldo Spinelli

Nama Aldo Spinelli telah identik dengan Livorno sejak tahun 1999. Aldo Spinelli adalah seorang pengusaha yang memiliki, Spinelli Group berkecimpung di bisnis sektor transportasi, logistik, bea cukai, dan terminal pelabuhan. Sebelum di Livorno, kiprah Aldo Spinelli di sepak bola dan liga Italia bermula saat masuk posisi kepemimpinan manajerial klub Genoa.

Sebagai orang nomor satu di klub Livorno, Aldo Spinelli tak luput dari permasalahan cekcok dengan pelatih. Berikut kejadian-kejadian yang melibatkan sang patron dengan allenatore.

  • Februari 2006

Livorno bermain imbang dengan skor 2-2 melawan Messina. Dalam sesi wawancara usai pertandingan dengan salah satu media di Italia, Spinellli melontarkan kritik dan menganggap Roberto Donadoni tidak pandai menjadi pelatih. Tak lama setelah pernyataan tersebut dimuat banyak media dan beredar di khalayak umum Roberto Donadoni dengan perasaan kecewa memutuskan untuk mundur dari kursi pelatih Gli Amaranto. Padahal dibawah asuhan eks pemain AC Milan tersebut, klub sedang berusaha menyeruak ke papan atas Serie A musim 2005/06

  • Januari 2007

Livorno dibantai oleh Atalanta dengan skor 5-1. Begitu pertandingan selesai, Spinelli yang menonton langsung pertandingan di Stadion kandangnya Atalanta tersebut segera menuju ruangan pemain. Kemudian berbicara kepada Daniele Arrigoni dan memecatnya dari posisi pelatih klub. Namun selang beberapa hari kemudian, berkat masukan dari para pemain, Daniele Arrigoni kembali dapat perintah untuk melatih. Namun dua bulan setelahnya, kesabaran Spinelli habis dan Arrigoni benar-benar mendapat surat pemecatan.

  • Januari 2015

Livorno menutup kalender tahun 2014 dengan menempati peringkat enam pada classifica Serie B 2014/15 yang sudah bergulir 21 giornata. Namun tiga laga terakhir tanpa kemenangan, Carmine Gauteri yang menjabat sebagai allenatore harus menerima surat pemecatan saat tahun 2015 memasuki hari-hari awal. Aldo Spinelli kemudian mempercayakan kursi pelatih kepada Ezio Gelain yang sebelumnya menjadi juru taktik tim Primavera-nya Gli Amaranto. Tetapi keputusan tersebut justru memperburuk Livorno. Pada bulan Maret 2015, Ezio Gelain di-PHK dan diganti oleh Christian Panucci. Tak banyak yang bisa diperbuat, Livorno tidak bisa promosi ke Serie A dan hanya finis di posisi 9.

Selain soal urusan pelatih, berkali-kali kepada awak media Aldo Spinelli mengutarakan keinginan melepas Gli Amaranto. Baru pada September 2020, Spinelli menjual saham kepemilikan klub Livorno kepada Rosettano Navarra (mantan presiden klub Frosinone) yang mengambil persentase 21% dan sebesar 69% diklaim telah dibeli oleh para pengusaha lokal. Sisa 10% masih dalam genggaman Spinelli dan keluarga.

Pada tanggal 9 Juli 2021, melalui rapat pemegang saham, Livorno bersiap untuk proses likuidasi. Yang dipercaya untuk memegang kendali dari likuidasi tersebut adalah Pier Paolo Gherlone. Nama yang tersebut merupakan kerabat Spinelli. Sebagian pendukung Gli Amaranto menolak keras keterlibatan Gherlone karena ujung-ujungnya Spinelli masih bisa memiliki campur tangan untuk Livorno. Sudah banyak tifosi klub yang jengah dan ingin sosok yang kini berusia 81 tahun ini agar tidak banyak berkuasa di klub.

Nama-nama pesepakbola tenar di Livorno

Kapten timnas Italia di ajang Piala Eropa 2020, Giorgio Chiellini mendalami sepak bola sejak usia masih cilik di akademi sepak bola Livorno. Juventus membelinya dengan harga transfer pemain senilai 6,5 juta euro pada pertengahan tahun 2004 dan membagi kepemilikan si pemain dengan Fiorentina. Dan yang terjadi selanjutnya yakni betapa cemerlangnya karir Giorgio Chiellini.

Marco Amelia mendapat debut pertandingan di karir professional dalam laga resmi saat Livorno bermukim di Serie C1 (sekarang Serie C) tengah berjuang promosi ke Serie B pada musim 2001/2002. Dua periode dijalaninya sebagai penjaga gawang inti di Stadion Armando Picchi. Yaitu pada rentang tahun 2001 sampai 2003 dan tahun 2004 sampai 2008.

Cristiano Lucarelli yang mempersembahkan gelar individu berupa sepatu emas berkat status capocannoniere Serie A. Banyak juga nama-nama beken yang telah membela Gli Amaranto dalam karirnya seperti Antonio Candreva dan Alessandro Diamanti. Berikut sebelas terbaik dari pemain-pemain yang pernah memperkuat klub yang khas dengan seragam utama warna merah marun tersebut.

Livorno

Pesepakbola tenar lainnya ada juga yang bergabung dengan Livorno meski hanya sebentar atau tidak dalam waktu yang lama. Diantaranya, Diego Tristan, Stefano Fiore, Samuel Kuffour dan Carlo Pinsoglio.

***********

Menjelang Serie D 2021/22 bergulir, info bersumber dari amaranta.it, Livorno telah melakukan pendaftaran dan mencatat menyiapkan dana jaminan partisipasi yang sudah disetor senilai 51 ribu euro. Berkoordinasi juga dengan Covisod, Lembaga yang menangani perihal finansial untuk klub-klub liga amatir di Italia.

Dengan kepemilikan klub yang (benar-benar) baru, semoga Livorno dapat segera mengatasi permasalahan ekonomi yang diderita. Serta kembali dipenuhi para pesepakbola mumpuni yang merumput di Stadion Armando Picchi.