Tidak bisa dipungkiri, AC Milan merupakan kesebelasan asal Italia yang paling banyak merebut gelar dari kompetisi Eropa. Tujuh kali juara Liga Champions, dua kali juara Winners’ Cup dan lima kali juara Piala Super Eropa. Musim ini I Rossoneri kembali berlaga meladeni klub-klub benua biru yakni di Europa League. Kendati gaungnya kompetisi tersebut masih dibawah Liga Champions, motivasi AC Milan untuk tampil semaksimal mungkin dapat terjaga lewat beberapa uraian berikut.

Satu-satunya yang belum diraih
Motivasi AC Milan untuk tampil perkasa di Europa League yang bisa dikatakan paling utama adalah demi melengkapi koleksi trofi yang dimiliki. Turnamen level kedua di Eropa ini belum dijuarai oleh I Rossoneri. Jika berhasil menjadi juara, tentu predikat klub Italia yang paling jago di kompetisi akan tetap disandang.

Demi kejayaan Italia di Eropa
Selain untuk mengharumkan nama klub sendiri, motivasi AC Milan untuk menjadi juara yaitu menuntaskan asa Italia untuk menaklukkan kompetisi Eropa. Di ajang Liga Champions, terakhir kali kesebelasan dari Serie A yang menjadi kampiun adalah Inter Milan (musim 2009/10). Sedangkan di Europa League, Parma (musim 1998/99) yang menjadi wakil terakhir Serie A yang berhasil menjadi juara.

Penanda era baru
Masa kepemilikan dan kepemimpinan Silvio Berlusconi di AC Milan telah merebut gelar juara berjumlah 29 trofi. Kini yang menjadi pemilik I Rossoneri adalah Elliott Management dengan Paolo Scaroni sebagai chairman klub. Dan Europa League bisa menjadi salah satu sasaran untuk membuktikan kesuksesan dan melepas bayang-bayang era presiden sebelumnya.

Berimbas kepada finansial klub
Adalah hal yang lumrah bila klub dapat meraih trofi juara, akan berpengaruh positif terhadap segi ekonomi tim. Seperti peningkatan penjualan tiket pertandingan atau dapat memperlancar sejumlah proyek baru yang dikembangkan AC Milan. Salah satunya adalah membangun Stadion milik sendiri.

Ambisi pribadi Stefano Pioli
Ketika aktif menjadi pemain, Stefano Pioli pernah merasakan kenikmatan menjuarai kompetisi Eropa. Peristiwa itu berlangsung di Liga Champions 1984/85 saat dia berstatus pemain Juventus. Meski beda nama turnamen, namun setidaknya ambisi Pioli yang ingin sukses mengangkat piala dari turnamen antar klub Eropa sebagai pemain bola kemudian sekarang menjabat pelatih klub bisa menambah motivasi AC Milan.