Kini tak lagi rupa buruk nampak menghiasi tim nasional (timnas) Peru. Keberhasilan menembus final Copa America 2019 patut diapresiasi lebih. Negara dengan kisaran 30 juta jiwa penduduk ini menempatkan sepak bola sebagai hal yang populer untuk mengangkat martabat bangsa. Antusiasme rakyat Peru dalam mendukung kesebelasan nasionalnya sudah diakui dunia pada ajang World Cup 2018.

Kehidupan di Peru tak jauh berbeda dengan negara-negara area Amerika Selatan lainnya. Sepak bola menyatukan masyarakatnya, tanpa memandang golongan tingkat sosial. Lapangan untuk dijadikan wahana mengolah si kulit bundar pun terdapat dimana-mana. Meski dengan kondisi seadanya.

Era 70-an ialah masa yang penuh sejarah dan kenangan bagi timnas Peru. Menjadi kampiun Copa America 1975. Berpartisipasi di Piala Dunia 1970 dan 1978. Sayang pada gelaran 1978 yang berlangsung di Argentina tersebut, terdapat tudingan pengaturan pertandingan yang melibatkan La Blanquirroja.

Teofilo Cubillas sebagai ikon timnas Peru saat itu. Berpadu dengan Hugo Sotil, Hector Chumpitaz, Juan Carlos Oblitas, Oswaldo Ramirez dan rekan-rekan yang lain berjuang mengangkat derajat sepak bola negaranya. Seiring waktu berjalan, dan para andalan nasional tersebut gantung sepatu, prestasi La Blanquirroja menurun.

Padahal Peru masih mampu mencetak pemain handal yang kemudian merumput bersama klub dari benua Eropa seperti Nolberto Solano dan Claudio Pizarro. Hanya saja itu belum cukup mengembalikan pamor La Blanquirroja. Malahan, sikap-sikap negatif di acara luar lapangan yang lebih tersorot. Ketika dipercaya menjadi tuan rumah Copa America 2004, timnas Peru tak bisa membuat kejutan berarti dan hanya melaju sampai perempat-final. Itu pun bisa lolos karena mendapat grup yang tanpa unggulan berat di fase penyisihan.

Kendati demikian, tak menyurutkan semangat tiap insan di Peru agar sepak bolanya dapat bangkit. Memasuki dekade kedua abad 21, upaya tersebut mulai terlihat. Semifinalis Copa America 2011 dan 2015. Tiket ke babak utama Piala Dunia 2018 digenggam erat.

Menghadapi Copa America 2019, target yang dipatok terhitung sederhana, bisa merebut tempat di semi-final. Namun ternyata bisa melesat sampai ke final. Kendati gagal merengkuh piala, pencapaian sekarang sudah bisa menggambarkan bahwa La Blanquirroja telah berkembang kualitas sepak bolanya.

Segala perbaikan dari FPF
Status kepesertaan La Blanquirroja di Piala Dunia 2018 nyaris dicabut. Pasalnya, sempat terjadi permasalahan dalam negeri, dimana pihak pemerintahannya ingin menjadikan federasi sepak bola Peru yang dikenal dengan FPF berada dalam naungannya. Sesuatu yang dilarang oleh FIFA karena induk organisasi sepak bola suatu negara tak boleh ada campur tangan kendali dari pihak pemerintah.

Karena tak ingin menghambat laju La Blanquirroja di ajang bergengsi dunia, pihak pemerintah segara meninggalkan wacana yang mengganggu prestasi tim nasionalnya.

Federasi sepak bola Peru memang dikenal tegas untuk pemain. Seperti contohnya kala menghukum beberapa pemain yang doyan keluyuran di malam-malam sebelum pertandingan. Acapkali permasalahan ini mencuat ke media sehingga mencoreng nama baik sepak bola Peru. Sanksi yang diberikan bisa berupa denda dan larangan bermain untuk timnas. Tak peduli mau itu pebola senior atau junior.

Terhadap para youngster, FPF menempuh kebijakan agar tidak menyarankan pemain yang masih muda merumput bersama klub papan atas Eropa. Edison Flores yang mencuat namanya pada Copa America U-17 2011, diberi izin gabung Villarreal namun tim keduanya atau tim B.

Untuk hubungan luar, FPF gencar dalam mencalonkan diri sebagai tuan rumah turnamen-turnamen naungan FIFA. Peru nyaris ditunjuk menjadi penyelenggara hajatan World Cup U-17 2019. Sayangnya sarana-sarana yang disiapkan belum memuaskan induk sepak bola dunia tersebut. Namun kegagalan tersebut memicu FPF dengan bantuan pemerintah semakin meningkatkan segala atribut yang bisa mendukung merebut kepercayaan FIFA.

credit: @SeleccionPeru

Andil dari Ricardo Gareca
Ricardo Gareca memegang titah sebagai pelatih timnas Peru diawal-awal tahun 2015. Memberikan medali perunggu atas kemenangan di perebutan juara ketiga Copa America 2015. Kemudian membawa La Blanquirroja mentas di Piala Dunia 2018. Dan teraktual sukses mengantar kesebelasan asuhannya hingga final Copa America 2019.

Atas pencapaiannya hingga sekarang ini, telah banyak wujud apresiasi masyarakat Peru untuk Ricardo Gareca. Mulai dari dibuatkan patung sampai diberikan kartu identitas semacam KTP di Peru.

Susahnya menjadi pelatih timnas Peru yakni menangani perangai para anak asuhnya. Paulo Guerrero, dengan sisi tempramentalnya. Yang paling diingat saat masih berkelana di Jerman bersama kesebelasan Hamburg SV. Jefferson Farfan, dulunya kerap bertindak indisipliner. Hampir diberi sanksi tidak bisa membela La Blanquirroja seumur hidup.

Dibawah komando Gareca, Guerrero dan Farfan yang dianggap talenta terbaik dari Peru dengan usia paling senior mengemban tugas sebagai pemimpin dan berhasil memerankannya dengan baik. Sementara dari rombongan pemain usia matang, Pedro Gallese, Carlos Zambrano, Christian Cueva, Andre Carrillo menunjukkan tingkatan komprehensif sebagai pebola.

Kalangan pemain muda juga sudah digunakan Gareca sebagai andalan La Blanquirroja saat ini. Yakni ada Renato Tapia, Edison Flores dan Luis Abram. Perpaduan pebola yang diracik pelatih dengan penampilan rambut gondrong tersebut tercipta dengan solid. Sehingga Peru tak lagi dipandang remeh di jagat sepak bola, terkhusus di zona Amerika Selatan.

Penyesuaian gaya main
Pada partai penyisihan grup Copa America 2019, Peru dibabat lima gol tanpa balas oleh Brasil. Padahal pertemuan di turnamen mayor pamungkas, Copa America Centenario 2016, Brasil dibuat tak berdaya dan berhasil disingkirkan Peru. Sadar masih memiliki kekurangan dalam mengembangkan kreativitas permainan, perubahan strategi dengan mengandalkan pertahanan rapat diusung Gareca.

Hasilnya terlihat kala menjalani fase knock-out. Uruguay dan Chile gagal menjebol gawang Peru. Sehingga para kandidat jawara Copa America 2019 ini tak melaju hingga partai puncak.

Secara statistik keseluruhan, Peru mencapai besaran rataan ball possesion sebesar 46,4%. Dari data yang dikumpulkan Whoscored tersebut, menempati deretan tiga terbawah. Rata-rata tiap pertandingan di Copa America 2019, jumlah pelanggaran yakni mencapai angka 18. Dengan kartu kuning yang didapat sebanyak 12 tanpa satu kartu merah.

Masih dari data Whoscored, Peru berada di posisi pertama dalam total melakukan intersep. Sebanyak 73 kali dengan rata-rata per pertandingan yakni 12,2. Begitu juga soal urusan clearance. Terhitung 122 kali upaya yang sudah dilakukan dengan rata-rata per pertandingan yakni 20,3. Sedikit contoh dari imbas gaya pragmatis yang diinstruksikan Gareca.

Keunggulan dari segi fisik betul-betul dimanfaatkan secara jeli oleh Gareca. Anak asuhnya tampil lebih bertenaga dalam menjelajah lapangan. Adapun kekalahan di final Copa America 2019 karena Brasil sanggup memaksimalkan kelugasan skill pemain-pemain. Tentu menjadi pelajaran bagi Peru agar bisa menemukan formula tepat menghadapi lawan dengan banyaknya pemain berkemampuan mumpuni.