Ditengah nestapa karena jauh dari rumah sendiri, Shakhtar Donetsk tetap memeperlihat tajinya sebagai kesebelasan tangguh Ukraina. Pertikaian kenegaraan yang melanda kota Donetsk serta wilayah timur Ukraina membuat Shakhtar harus menjadi nomad dalam menjalani aktifitas biasanya sebagai klub sepak bola. Berpindah-pindah homebase mulai dari Arena Lviv dan sekarang menumpang di NSC Olimpiyskiy yang notabene kandang dari Dynamo Kyiv.

Shakhtar Donetsk mulai banyak dikenal namanya berkat keberhasilannya menjuarai Piala UEFA (kini bernama Europa League) 2008/09. Momen emas di kancah kompetisi Eropa yang belum bisa diulangi saat ini. Di pelataran klub-klub Ukraina, Shakhtar menyaingi kemasyhuran Dynamo Kyiv. Pertemuan antar keduanya mendapat sebutan derbi Ukraina dan dilabeli predikat Klasychne yang jika diartikan dalam bahasa Indonesia adalah klasik. Dari mulai musim 2009/10 sampai musim lalu yakni 2019/20, kesebelasan berjuluk Hirnyky ini hanya dua kali gagal menjuarai liga utama Ukraina.

Ambisi untuk menjadi yang terbaik selalu menyala di Shaktar. Didukung oleh sokongan dana dari pemilik klub yang tidak pelit dari Rinat Akhmetov segala perbaikan ditempuh demi menaikkan citra klub. Dari segi sarana dan prasarana, telah terbangun Stadion megah bernama Donbass Arena yang menghabiskan anggaran kurang lebih $ 400 juta. Kemudian dalam memperkuat tim, aktif merekrut pemain-pemain baik dari klub rival senegara atau dari manca negara.

Awal Jatuh cinta dengan pemain Brasil
Pelatih kondang asal Rumania, Mircea Lucescu tiba menjadi pelatih Shaktar pada penghujung musim 2003/04. Tangan dinginnya langsung mengantarkan Piala Ukraina ke dalam lemari penghargaan klub. Oleh owner Rinat Akhmetov serta jajaran petinggi klub lainnya, mantan pelatih Inter Milan dan Galatasaray ini diberikan keleluasaan dalam menentukan pemain baru yang diboyong. Mengawali musim 2004/05, dana kurang lebih sebesar 20 juta euro dikeluarkan untuk pemain baru yang didatangkan. Yaitu untuk Tomas Hubschman (3 juta euro), Batista (3 juta euro) yang pernah dilatihnya di Galatasaray, Matuzalem (14 juta euro) yang menjadi rekor pembelian termahal klub saat itu.

Batista dan Matuzalem adalah pemain berkebangsaan Brasil. Sebelumnya di Shaktar sudah ada Brandao yang lebih dulu hadir. Kemudian pada pertengahan musim 2004/05, datang lagi pebola dari Brasil, Elano dan Jadson. Peran para pemain dari negeri khas tarian Samba semakin memudahkan Mircea Lucescu dalam mengangkat derajat tim dan berhasil menjadi juara liga Ukraina untuk kali kedua dalam sejarah klub.

Kesuksesan tersebut semakin membuat Lucescu, Akhmetov dan jajaran petinggi klub lainnya untuk lebih yakin untuk rutinitas merekrut pemain Brasil. Terbukti di musim panas tahun 2005 dua pemain berpaspor Brasil didatangkan. Mereka adalah Leonardo dari Santos dan Fernandinho dari Athletico Paranaense. Hasilnya di musim 2005/06, kembali Shaktar menjuarai liga Ukraina.

Kemudian pada awal musim 2006/07, tak ada pemain asal Brasil yang direkrut. Lucescu memilih mengoptimalkan pemain muda lokal yang ada di klub seperti Dmytro Chygrynskyi dan Andriy Pyatov (kini menjadi kapten tim Shaktar). Namun sayangnya perjalanan Hirnyky di liga Ukraina menemui kesusahan. Upaya memperbaiki keadaan dengan mendatangkan Luiz Adriano pada Maret 2007 tak bisa membantu untuk pertahankan gelar dan yang finis di peringkat pertama liga Ukraina musim tersebut adalah Dynamo Kyiv.

Tak ingin mengulang kegagalan, pertengahan tahun 2007, aktif menambah kekuatan dengan membeli pemain baru. Diantaranya Cristiano Lucarelli yang tengah naik daun bersama Livorno. Nery Castillo yang dilabeli wonderkid dari Meksiko. Dan tak lupa dua pemain berkebangsaan Brasil turut direkrut yakni Ilsinho dari Sao Paulo dan Willian Borges dari Corinthians. Pencapaian Shaktar di musim 2007/08 adalah berhasil menggondol gelar juara liga Ukraina dan piala Ukraina.

Terus bertambah dan berlanjut
Tak semua pemain Brasil yang didatangkan Shakhtar Donetsk bisa memberikan timbal balik yang positif baik itu secara prestasi gelar juara atau keuntungan finansial. Berikut nama-nama pesepakbola berpaspor Brasil yang telah didatangkan Mircea Lucescu ke Donbass Arena:

Shakhtar Donetsk

(sumber informasi dari transfermarkt.com)

Dari sekian nama tersebut, diantaranya mampu menghasilkan nilai jual yang tinggi di bursa transfer. Tentu saja dibalik harga yang mahal tersebut dampak dari prestasi yang diberikan untuk klub. Masih ada empat pemain yang bertahan di Shakhtar yakni Dentinho, Alan Patrick, Taison serta Marlos Romero yang sudah naturalisasi kewarganegaraan menjadi Ukraina.

Ditambah nama-nama lainnya yang ada saat ini yaitu, Marcos Antonio, Dodo, Tete, Maycon, Ismaily, Marquinhos Cipriano, Vitao, Fernando dos Santos. Menjadikan skuad Hirnyky banyak pemain Brasil. Hal ini tak lepas dari perhatian khusus dari Shakhtar dengan membentuk tim yang memantau pesepakbola-pesepakbola belia di negara tersebut.

Tak salah bila menyebut Shakhtar bak perwujudan simbol keakraban antara Ukraina dan Brasil. Sebab timnas Brasil juga terbantu tak kehabisan sumber daya untuk terus menjadi negara yang disegani kekuatan sepak bolanya. Diibaratkan, Shakhtar Donetsk menjadi salah satu klub pelanggan utama Brasil untuk meng-ekspor pemainnya merumput ke benua Eropa.

Tak melupakan talenta lokal
Meski terkesan seperti ingin mem-Brasil-kan diri, Shakhtar tak lupa dengan asal-usulnya yakni kesebelasan dari Ukraina. Hal ini diwujudkan dari semakin dikembangkannya FC Shakhtar Donetsk Football Academy yang sudah berdiri sejak tahun 2000. Jika ingin mengetahui seputar anak-anak muda yang bermain untuk Hirnyky, bisa lihat di sini.

Salah satu alumni akademi Shakhtar yang terkenal ialah Dmytro Chygrynskyi. Dia pernah menjadi pemain Barcelona yang diasuh pelatih kenamaan, Pep Guardiola. Sayangnya dia tak bisa bertahan lama di Camp Nou. Hanya semusim mengenakan seragam merah-biru klub Catalunya tersebut dan memilih kembali ke Shakhtar.

Sementara itu dari kalangan nama yang tengah tenar sekarang dan pada masa remaja bergabung dengan akademi Shakhtar Donetsk ialah Oleksandr Zinchenko. Pemain Manchester City ini pernah menjadi bagian tim muda Hirnyky hingga jenjang U-19. Sayangnya karirnya yang sempat menemui lika-liku yang rumit hingga tak bisa tampil di tim utama. Namun kini dia sudah disebut banyak orang sebagai salah satu talenta terbaik Ukraina.

Ruslan Malinovskyi merupakan salah satu pilar tim muda Hirnyky untuk menjuarai kompetisi nasional di jenjang U-17. Akan tetapi dia tak mendapat kesempatan bermain di tim utama karena begitu promosi, dia langsung dipinjamkan ke tim lain. Klub Belgia, KRC Genk yang sudah puas dengan performanya memutuskan mengambil kepemilikannya dari Shakhtar. Berkat banyak kesempatan bermain di Belgia tersebut, bakatnya semakin terasah dan dia sudah menjadi andalan timnas Ukraina dan perkuat kesebelasan yang tengah naik daun di Serie A, Atalanta.

Jika dilihat dari popularitas memang dua pemain tersebut sudah melambung namanya. Tetapi sebenarnya telah banyak pemain dari lulusan akademi dan sekarang perkuat Shakhtar Donetsk menjadi bagian dari skuad timnas Ukraina yang sekarang ditangani Andriy Shevchenko. Mereka adalah Mykola Matvienko (bek), Valeriy Bondar (bek), Serhiy Bolbat (bek), Viktor Kovalenko (gelandang).