Dengan penuh kegembiraan, kapten timnas Qatar, Hassan Al-Haydos mengangkat trofi Piala Asia 2019. Mengesampingkan segala masalah kenegaraan yang merebak di ranah Jazirah Arab. Timnas berjuluk The Maroons mengajak masyarakat yang sudah mendukungnya untuk bersukacita.

Untuk pertama kalinya, Qatar menjadi juara Piala Asia. Dalam kesempatan perdana masuk partai puncak. Padahal sejak awal turnamen yang bertempat di Uni Emirat Arab akan terlaksana, banyak yang tidak memfavoritkan The Maroons sebagai calon juaranya.

Meski begitu, bukan berarti Qatar tak boleh memamerkan kekuatannya di Uni Emirat Arab. berpredikat tim yang paling produktif dengan mengemas 19 gol. Satu-satunya tim yang indeks mengkonversikan peluang menjadi gol diatas 30%. Hanya kebobolan satu gol (terjadi di partai final) sepanjang perhelatan Piala Asia 2019. Menempati peringkat keempat diantara peserta lain perihal rata-rata umur tim yang termuda dengan 24,87 tahun. Menjadi salah satu tim dengan daya jelajah yang tinggi di lapangan hijau. Sumber angka-angka tersebut dari portal situs BeinSports dan FoxSportAsia.

Kesuksesan menjuarai Piala Asia 2019 tak lepas dari hasil proyek yang dirancang guna meningkatkan kualitas sepak bola Qatar. Pembinaan pemain yang memadai. Kompetisi domestik yang tertata dan bisa menarik pemain-pemain dari manca negara merapat. Sarana yang dibangun bermutu tinggi. Serta program-program lain yang bisa menjadi pendukung.

Bermula dari Asian Games 2006
Asian Games menjadi awal ambisi Qatar untuk mengharumkan namanya di bidang olahraga. Qatar ditunjuk sebagai tuan rumah pentas olahraga terbesar di benua kuning itu yang diselenggarakan akhir tahun 2006. Sederet program dibentuk untuk mengolah sumber daya manusia Qatar sebagai atlit yang baik. Salah satunya yaitu dibuatnya Aspire Academy pada tahun 2004. Sepak bola tak luput dari perhatian mereka untuk dibentuk tim yang tangguh.

Sebelumnya Qatar tampil mengenaskan di Piala Asia 2004. Menempati posisi buncit di penyisihan grup A. Ditumbangkan oleh Indonesia yang menjadikan sejarah kemenangan perdana timnas kita di Piala Asia.

Jumlah penduduk di Qatar tidak dalam angka yang besar. Jalan pintas berupa memindahkan kewarganegaraan atau yang kita banyak paham sebagai naturalisasi ditempuh. Berbagai orang dari negara lain yang dinilai memiliki keunggulan dalam berolahraga, dijadikan beridentitas kebangsaan Qatar. Cabang olahraga sepak bola menjadi yang teraktif dalam urusan naturalisasi atlitnya.

Dari 20 pemain yang disiapkan untuk menghadapi Asian Games 2006, hampir 50% berasal dari hasil naturalisasi. Sebastian Soria yang di kemudian hari menjadi top skor timnas Qatar, lahir di Uruguay. Abdulla Koni lahir di Senegal. Majdi Siddiq lahir di Sudan. Serta pemain-pemain yang lahir di negeri tetangga Qatar seperti Ali Nasser dan Mesaad Al-Hamad (Yaman), Wesam Rizik (Kuwait), Yusef Ahmed (Arab Saudi).

Target timnas sepak bola Qatar untuk menjadi pemenang di Asian Games 2006 terpenuhi. Total, sembilan medali emas diperoleh Qatar selama mengarungi gelaran pertarungan olahraga antar negara-negara Asia.

Tambah Ilmu dari Spanyol
Setelah gencar melakukan gerakan naturalisasi pemain, Qatar mencoba memperdalam pemahaman ilmu sepak bola. Sebab The Maroons masih sulit bersaing dengan timnas dari kawasan Asia lainnya. Pilihan kemudian tertuju ke Spanyol. Negara yang menjadi pemenang di Piala Eropa 2008 dan 2012 serta Piala Dunia 2010. Relasi bisa tercipta diawali beragam faktor. Salah satunya mendatangkan pemain-pemain ternama agar bersedia merumput di Qatar.

Eks ikon Real Madrid, Raul Gonzalez bergabung dengan Al Sadd pada tahun 2012. Kemudian hadir Pablo Hernandez, Chico Flores, Sergio Garcia. Nama gres selanjutnya yang datang yakni gelandang flamboyan dari Barcelona, Xavi Hernandez di pertengahan tahun 2015. Memang jauh sebelum keramaian para Spaniard di Qatar Super League, Fernando Hierro yang merupakan salah satu kapten legendaris timnas Spanyol tiba tahun 2003 untuk bermain bagi Al Rayyan.

Lalu federasi sepak bola Qatar, QFA membina beberapa hubungan bilateral dengan RFEF yang merupakan federasi sepak bola Spanyol. Mulai dari segi bisnis dengan dibangunnya LaLiga Lounge di wilayah Doha, ibukota Qatar. Kemudian proses pembinaan pemain, dimana talenta-talenta berbakat Qatar bisa mengasah kemampuan olah bola dengan kesebelasan-kesebelasan Spanyol.

Beberapa jebolan pemain terbaik dari Aspire Academy pernah menambah pengalaman bermain sepak bola di tanahnya para Matador. Pada tahun 2016 alumnus dari akademi tersebut berbondong-bondong ditarik ke klub divisi tiga liga Spanyol, Cultural Leonesa. Diantaranya yakni Tarek Salman, Assim Madibo, Tameem Almuhaza, Almoez Ali yang masuk skuat Qatar Piala Asia 2019. Hal ini tak lepas dari kerjasama antara Leonesa dan Aspire. Staf-staf Leonesa juga dilibatkan dalam manajemen pengelolaan ilmu sepa bola di Aspire.

Selain itu, masih ada pemain The Maroons dari skuat Piala Asia 2019 yang berkesempatan gabung kesebelasan-kesebelasan lainnya di Spanyol. Akram Afif direkrut oleh Villarreal di tahun 2016, kendati pada akhirnya dipinjam-pinjam klub lain. Bassam Al-Rawi yang menjalani trial bersama Celta Vigo B pada tahun 2016.

Tak cukup dari segi pemain, kepelatihan sepak bola turut diwarnai dengan unsur Spanyol. Agar terjalin kesinambungan filosofi yang dipelajari dapat tertanam dengan baik. Salah satu orang berkebangsaan Spanyol yang dipercaya mengatur strategi permainan di lapangan yaitu Felix Sanchez. Dia merupakan pelatih The Maroons pelbagai jenjang umur. Dimulai dari timnas U-19 pada tahun 2013. Dengan berhasil mempersembahkan gelar juara Piala Asia U-19 2014. Berlanjut menangani timnas U-20 yang di Piala Dunia U-20 2015. Sempat gagal mengantar Qatar tampil di Piala Dunia U-20 2017. Namun untuk gelaran selanjutnya yaitu Piala Dunia U-20 2019, tiket untuk berpartisipasi telah digenggam.

Rapor baik yang ditunjukkan Felix Sanchez pada timnas level junior tersebut membuatnya naik pangkat. Per tahun 2017, dia diberi mandat sebagai pelatih timnas senior Qatar. Dengan apik dia mampu menyatukan para pemain kawakan The Maroons dengan pemuda-pemuda yang sudah diasuh olehnya sejak lama.

Tujuan Selanjutnya
Negara yang dulu kerap dipandang sebelah mata dalam kejuaraan-kejuaraan sepak bola, kini siap mengubah derajatnya. Usai gelaran Piala Asia, ada dua turnamen berikutnya yang menjadi ajang timnas Qatar unjuk kualitanya di tahun 2019. Yaitu Copa America dan Piala Dunia U-20. Kendati belum diketahui bagaimana langkah selanjutnya, terutama mengenai posisi Felix Sanchez. Mengingat dia merangkap menjadi pelatih The Maroons senior dan U-20.

Terpenting adalah bagaimana keberhasilan sebagai kampiun Piala Asia 2019 bukanlah tujuan akhir. Melainkan awal dari momentum untuk memperlihatkan bagaimana ketangguhan sepak bola Qatar. Piala Dunia 2022 yang dihelat di tanah airnya sendiri, The Maroons wajib membuktikan segala daya dan upaya yang sejak lama dilakukan berbuah kejayaan yang indah.

Kita perlu ambil pelajaran yang baik dari usaha Qatar memanjat tempat terhormat di sepak bola. Ketimbang ikutan berdebat mengenai kepantasan Qatar menyandang status juara Piala Asia 2019. Toh, banyak negara dari benua Asia lain yang mengikuti arus me-naturalisasi pesepakbola. Walaupun mungkin belum bisa jor-joran secara dana untuk pengembangan pemain lokal. Tapi yang paling utama adalah mempunyai federasi sepak bola yang begitu sangat memikirkan bagaimana merancang tim nasional yang bisa membanggakan negaranya.