Roy Hodgson selaku manajer Crystal Palace mempercayakan pos penjaga gawang utama pada musim ini kepada Wayne Hennessey. Sedangkan kiper veteran, Julian Speroni dan kiper baru, Vicente Guaita disiapkan sebagai cadangan.

Setelah liga primer Inggris musim ini berlalu hingga 16 pekan, Hennessey rutin mengawal gawang klub yang ada logo Elang tersebut. Namun problem punggung yang cedera membuat kiper berkebangsaan Wales tersebut harus menepi. Sehingga pada gameweek 17, Roy Hodgson harus menentukan penjaga gawang yang ditampilkan dalam partai melawan Leicester City. Pilihan eks pelatih timnas Inggris jatuh kepada Vicente Guaita yang selalu dimainkan pada ajang Piala Liga Inggris (EFL Cup) musim ini.

Vicente Guaita tiba di kesebelasan asal ibukota Inggris tersebut sejak awal musim ini. Dengan rekam jejak yang baik di Spanyol yang merupakan Negara kelahirannya. Pernah menyabet trofi Zamora untuk Divis Segunda (sekarang La Liga 2) periode 2009/10. Kala itu, ia membela klub Recreativo Huelva dengan status pemain pinjaman.

Keberhasilan tersebut membuatnya bisa mentas di kasta teratas liga Spanyol. Klub yang mendidiknya dari remaja, Valencia dan klub semenjana di kota Madrid, Getafe merupakan tim yang selanjutnya diamankan gawangnya oleh Guaita.

Berdasarkan data dari transfermarkt, dengan 176 kali main, Guaita berhasil nirbobol sebanyak 51 kali. Kemudian jumlah penyelamatan yang dihimpun oleh whoscored, yakni sebesar 502 kali. Angka-angka tersebut terkumpul selama Guaita berlaga di ajang La Liga dalam kurun 7 musim.

Permulaan karirnya di Valencia, oleh Unai Emery yang waktu itu menjadi pelatihnya, Guaita disiapkan sebagai opsi ketiga untuk penjaga gawang setelah Cesar Sanchez dan Miguel Angel Moya. Setelah kedua kiper tersebut harus absen bertanding, Guaita memperoleh kesempatan main. Dalam kurun waktu La Liga musim 2010/11, ia pun tampil sebanyak 21 pertandingan dengan bilangan kebobolan 26 gol.

Musim berikutnya, Emery selaku pelatih masih mengandalkan Guaita kendati kadang bergantian dengan Diego Alves. Kali ini dia bermain sejumlah 26 pertandingan La Liga dan kemasukan gol sebanyak 25 bola. Sebuah catatan yang positif bagi kiper yang masih muda (kala itu usia Guaita 24 tahun).

Pergantian pelatih di Valencia turut mengubah nasib Guaita selanjutnya. Mauricio Pellegrino lebih sering menempatkannya di bangku cadangan. Begitu pula ketika Ernesto Valverde masuk di pertengahan musim 2012/13. Baru pada lima laga pamungkas liga, secara kontinu Guaita mengawal gawang Los Ches.

Kemudian keputusan pindah klub dibuat Guaita yang kesempatan bermainnya semakin jarang di Stadion Mestalla. Getafe merekrutnya pada musim 2014/15. Bersama El Geta, dia menjadi kiper andalan. Meski deraan cedera pada lutut, punggung, tangan datang menghampirinya. Belum lagi fakta kalau klub yang dibelanya terdegradasi.

Selama 4 musim di Getafe, aksi-aksi penyelamatannya menjadi penenang buat rekan setimnya dan pendukungnya. Dan petualangan Guaita berlanjut di ranah Inggris dengan menerima pinangan Crystal Palace.

Ramaikan Arus Kiper Spanyol di Liga Inggris

Musim 2018/19, sejumlah kiper baru hadir meramaikan kompetisi elit di negeri yang terkenal menara jam, Big Ben. Spanyol yang merupakan pemenang Piala Dunia 2010 turut mengirimkan putranya untuk bergabung dengan tim Inggris. Selain Guaita yang merapat ke Crystal Palace, ada Sergio Rico (gabung bersama Fulham) dan Kepa Arrizabalaga (pindah ke Chelsea). Sehingga Spanyol menjadi pengimpor terbesar untuk sektor penjaga gawang di Liga Primer Inggris musim ini dengan total 6 orang.

Kinerja yang diperlihatkan Guaita tidak terlalu buruk pada musim perdananya merumput di Inggris. Mendapat kepercayaan tampil di EFL Cup dengan capaian 2 pertandingan awal gawangnya aman dari kebobolan dan Crystal Palace menang. Sayang ketika di babak selanjutnya yaitu babak keempat, ia tak berhasil mencegah pemain Middlesbrough Lewis Wing cetak gol semata wayang pada pertandingan. Perjalanan The Eagles di EFL Cup terhenti.

Partai pekan 17 menjadi penanda debut Guaita di Liga Primer Inggris. Sekaligus penampilan perdananya di Selhurst Park pada kompetisi resmi. Karena pada EFL Cup, Crystal Palace selalu bermain tandang. Hasil pertandingan tersebut anak asuh Roy Hodgson menang 1-0 atas Leicester City. Dan Guaita melakukan 2 penyelamatan dalam menjaga gawangnya.

Penampilan memukau terus diperlihatkan Guaita dalam mengemban tugas sebagai kiper. Crystal Palace memperoleh kemenangan penting atas Manchester City, klub juara bertahan yang bermain di kandangnya. Dengan tiga penyelamatan yang dibuatnya, usaha The Citizens untuk tidak kehilangan poin sirna.

Berlanjut ke pekan 19, Guaita tidak memungut bola dari dalam gawangnya. Jumlah penyelamatannya pun meningkat pada partai tersebut menjadi sebanyak 4 kali. Sayang hasil pertandingan bukan kemenangan untuk Crystal Palace. Melainkan skor kacamata yang membuat The Eagles dan lawannya, Cardiff City dapat 1 poin.

Laga menghadapi Chelsea di gameweek 20, Roy Hodgson menempatkan Guaita sebagai starter. Wayne Hennessey yang telah pulih dari cedera masih disimpan di bangku cadangan. Meski hasil akhirnya Crystal Palace harus mengakui keunggulan klub sekota, Guaita mencetak 3 penyelamatan untuk mengamankan gawangnya.

Menurut Euan McTear dalam artikelnya di tifofootball.com, Guaita dengan pembawaannya yang tenang mampu menjaga areanya dan cekatan dalam antisipasi umpan silang. Statistiknya dalam melakukan tinjuan terhadap bola merupakan yang tertinggi dalam 3 musim terakhirnya di Liga Spanyol.

Jadi, peluang Guaita (dan juga Sergio Rico) untuk memberikan kesan baik di perantauannya terbuka. Bisa mengikuti jejak kiper asal Spanyol lainnya, David De Gea (Manchester United) dan Kepa Arrizabalaga (Chelsea) yang mapan sebagai penjaga gawang utama di klubnya. Atau menjadi penghangat bangku cadangan seperti kompatriot lain, Adrian (West Ham) dan Fabri (Fulham).